Rabu, 03 Mei 2017

Sarkub (sarjana kuburan )

🌿 *MBAH SHOBIB (SARKUB)* 🌿

Assalamu'alaikum mba mas jhoooon 😎 salam tresno dari kulo untuk dulur°° sedoyo 😊 setiap manusia punya ciri khas dan jalan yang berbeda-beda walau dengan tujuan yang sama, tak jarang perbedaan itu jadi hal yang unik dan menggugah jiwa, tapi tak jarang juga yang justru menjadi fitnah bagi orang°° yang memang enggan berhusnudhon dan enggan bertabayyun...

di siang yang cerah ini, aku sendiri, tiada yang menemani 😚 _loyaa kok malah nembang_😅 iya maksutnya kulo ingin membagikan sebuah kisah yang diperoleh dari eyang kakung Musthofa Bisri (Gus Mus), dan semoga ini bisa menggugah hati kita yang mungkin sedang tidur atau ketiduran.. monggo disimak 👇👇

oleh: Ahmad Musthofa Bishri (Gus Mus)

aku sedang duduk sendiri di ruang tamu, setelah tamu-tamu pamit pulang, ketika itu datang seorang tua berpakaian petani, seperti baru saja mentas dari sawah.

begitu sampai pintu rumah, dia buka tudung kepalanya dan dengan berjongkok mendatangiku. Aku buru-buru mendapatkannya dan 'mendudukkannya' di sebelahku. Dengan sangat sopan, dia memperkenalkan dirinya. (Masya Allah, aku kaget setengah mati. Inikah tokoh yang selama ini diceritakan orang dengan berbagai sebutan, seperti Kiai Khos, Kiai Nyentrik, 'Kiai Jalanan', bahkan ada yang terang-terangan menyebutnya sebagai Wali? Kiai yang sering menolong orang dengan menyamar sebagai orang lain?)

Selain ingin bersilaturahmi, tamu istimewaku itu minta izin untuk memberi sekedar 'uang jajan' kepada anak-anak TK Masyithoh yang letaknya di sebelah rumah. Dia minta tolong ibu guru TK menjelaskan kehadirannya, sebelum kemudian membagikan uang kepada anak-anak sambil mengatakan,

_Mbah dimintakan ampun kepada Allah ya_ 🙂

kemudian setelah perkenalan aneh tersebut, tokoh yang suka menyebut dirinya Sarkub alias _Sarjana Kuburan_ ini sering ke rumah dengan penampilan khas. Tidak lagi seperti petani; tapi campuran antara  citra kiai, pengusaha, dan rakyat jelata: mengenakan jas, peci hitam yang lancip, selalu naik mobil yang cukup mewah (paling sering naik jeep Mercedes Benz) dan memakai sandal jepit atau bahkan kadang nyeker, tanpa alas kaki.

kebiasaan istimewa tokoh ini saat rawuh ke rumah: duduk hanya sebentar, lalu minta izin ke dapur, lalu membagi-bagi uang kepada siapa saja yang ada di dapur, lalu minta izin untuk memberi uang kepada ibuku (Almarhumah Nyai Ma'rufah Bishri), kepada mbakyuku (Nyai Muhsinah Cholil), dan ibunya anak-anak (Almarhumah Bu Siti Fatmah). Kemudian bergegas kesana-kemari untuk memberikan uang tidak hanya kepada mereka yang dituju, tapi juga kepada siapa saja yang berpapasan: apakah itu anak-anak, santri, atau orang yang kebetulan lewat. Maka hampir semua penduduk seputar gubug kita hafal kebiasaan istimewa ini.

Aku perhatikan jasnya yang tampak kebesaran dan memiliki banyak saku itu, ternyata bukan sembarang jas. Rupanya saku-saku jas itu penuh dengan uang dan masing-masing berisi uang dengan nominal sendiri-sendiri: saku ini berisi ratusan ribu, saku itu, lima puluhan ribu, yang ini, dua puluhan ribu, yang itu, sepuluhan. Jadi setiap orang 'punya saku'nya sendiri di jas tokoh kita ini.

pasti kebiasaan membagi-bagi uang itu tidak hanya di tempat kami saja. Sebelumnya aku sudah mendengar kebiasaan 'kiai-pengusaha' dermawan ini. Dan ini hanyalah salah satu dari keistimewaan tokoh kiai yang mengaku pernah menjadi khodam atau pelayannya Mbah Kiai Romli Tamim Rejoso..

Kiai yang (seperti halnya Al-'arif billah Syaikh Bahlul dari Baghdad) suka ziarah ke makam Sunan Muria. Hari ini akan diperingati haul tokoh kita ini, KH. Shobiburrahman bin anwar yang masyhur dikenal dengan panggilan Mbah Shobib, di kediamannya Menganti Jepara.

Lahul Faatihah..

_SEKIAN_

saya tutup kata°° bijak dari tukang becak 👇

_ikhlas itu satu hal yang sangat berat dan keikhlasan yang paling berat itu ketika merelakan dia bersanding dengan yang lain_ 😆

loya loya 😂😁✌🏼

Tidak ada komentar:

Posting Komentar