Jumat, 19 Mei 2017
Rabu, 03 Mei 2017
Sejarah yang terlupakan dari Walisongo
Yg terlupakan dalam sejarah emas Umat Islam...
*Walisongo Adalah Utusan Kesultanan Utsmaniyah*
Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Kondisi ini tidak lepas dari peranan para ulama yang disebut sebagai Walisongo (sembilan wali). Sedikit orang yang mengetahui siapa sebenarnya Walisongo dan berasal dari mana kah mereka.
Sebuah kitab bernama Kanzul Hum karya Ibnu Bathutah yang sekarang disimpan di museum Istana Turki di Istanbul menyebutkan bahwa Walisongo datang ke Indonesia atas perintah Sultan Muhammad I untuk menyebarkan agama Islam.
Pada tahun 1404 M (808 H) Sultan mengirim surat kepada para pembesar Afrika Utara dan Timur Tengah dengan maksud untuk meminta sejumlah ulama agar diberangkatkan ke pulau Jawa. Para ulama yang dimaksud adalah mereka yang memiliki kemampuan dalam segala bidang agar nantinya akan memudahkan proses penyebaran Islam.
Dengan keterangan di dalam kitab tersebut kita menjadi tahu bahwa sebenarnya Walisongo adalah para ulama yang sengaja diutus Sultan pada masa kekhalifahan Utsmani. Saat itu terdapat 6 angkatan keberangkatan yang masing-masing terdiri dari sembilan orang. Jadi jumlah sebenarnya bukan sembilan ulama tetapi jauh lebih banyak.
Angkatan satu dipimpin oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim asal Turki yang berangkat pada tahun 1400an. Beliau adalah ulama yang memiliki keahlian dalam bidang politik dan sistem pengairan. Dengan berbekal keahlian tersebut maka beliau menjadi peletak dasar berdirinya kesultanan di pulau Jawa dan juga berhasil memajukan pertanian di pulau ini.
Angkatan pertama ini juga terdiri dari dua orang ulama yang berasal dari Palestina yaitu Maulana Hasanuddin dan Sultan Aliudin. Dua orang ulama ini berdakwah di Banten dan mendirikan kesultanan Banten. Maka dapat disimpulkan bahwa masyarakat Banten yang merupakan keturunan dari Sultan Hasanuddin memiliki hubungan secara biologis dengan rakyat Palestina.
Selain itu ada Syekh Ja'far Shadiq yang diberi julukan sebagai Sunan Kudus dan Syarif Hidayatullah yang disebut sebagai Sunan Gunung Jati. Kedua ulama ini juga berasal dari Palestina. Dalam proses dakwah beliau, Sunan Kudus membangun sebuah kota di Jawa Tengah yang kemudian disebut kota Kudus. Nama kota tersebut berasal dari kata Al Quds (Jerusalem).
Masyarakat Nusantara pertama kali mengenal Islam pada abad 7 Masehi atau abad 1 Hijriah. Pengaruh Islam sangat besar pada situasi politik saat itu. Dengan semakin berkembangnya ajaran Islam di Nusantara ketika itu, maka bermunculan lah berbagai kerajaan dan kesultanan Islam seperti Kesultanan Peureulak, Samudera Pasai, Aceh Darussalam, Palembang, Ternate, Tidore, Bacan (Maluku), Pontianak, Bulungan, Tanjungpura, Mempawah, Kutai, Sambas, Banjar, Pasir, dan Sintang.
Sedangkan kesultanan yang berdiri di Jawa di antaranya adalah Demak, Pajang, Cirebon, dan Banten. Di Sulawesi, syariat Islam diterapkan dalam institusi kerajaan Gowa Tallo, Bone, Wajo, Soppeng dan Luwu. Di Daerah Nusa Tenggara hukum Islam diterapkan dalam kesultanan Bima.
*Perjalanan Dakwah Wali Songo*
Sebelum tiba di tanah Jawa, pada umumnya para ulama ini singgah terlebih dahulu di Pasai. Penguasa Samudera Pasai yang hidup pada tahun 1349-1406 Masehi, Sultan Zainal Abidin Bahiyan Syah adalah orang yang mengantarkan Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishaq ke Tanah Jawa.
Sejak tahun 1463 Masehi semakin banyak ulama Jawa yang menggantikan ulama yang telah wafat atau berhijrah ke tempat lain. Para ulama pengganti tersebut di antaranya:
- Raden Paku (Sunan Giri)
Beliau adalah putra Maulana Ishaq dengan Dewi Sekardadu yang merupakan putri dari Prabu Menak Sembuyu Raja Blambangan.
- Raden Said (Sunan Kalijaga)
Beliau adalah putra Bupati Tuban, Adipati Wilatikta atau disebut juga Raden Sahur. Berdasarkan sejarah masyarakat Cirebon, julukan Kalijaga berasal dari nama salah satu desa di Cirebon bernama Kalijaga. Saat Raden Said bermukim di desa tersebut, beliau sering berdiam diri dengan berendam di kali (jaga kali).
- Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang)
Beliau adalah putra dari Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila. Nama Bonang berasal dari nama sebuah desa di Rembang.
- Raden Qasim Dua (Sunan Drajad)
Seperti halnya Sunan Bonang, beliau juga adalah putra Sunan Ampel. Dengan demikian Sunan Drajad adalah saudara dari Sunan Bonang.
Para ulama diberi gelar Raden yang berasal dari kata Rahadian dan berarti Tuanku, maka dapat disimpulkan bahwa saat itu dakwah Islam telah berjalan dengan baik dan mendapat kehormatan dari kalangan pembesar Kerajaan Majapahit.
*Para Ulama Penyebar Agama Islam Di Nusantara*
Wali Songo Angkatan Ke-1, tahun 1404 M/808 H. Terdiri dari:
1. Maulana Malik Ibrahim, berasal dari Turki, ahli mengatur negara.
2. Maulana Ishaq, berasal dari Samarkand, Rusia Selatan, ahli pengobatan.
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, dari Mesir.
4. Maulana Muhammad Al Maghrobi, berasal dari Maroko.
5. Maulana Malik Isro’il, dari Turki, ahli mengatur negara.
6. Maulana Muhammad Ali Akbar, dari Persia (Iran), ahli pengobatan.
7. Maulana Hasanudin, dari Palestina.
8. Maulana Aliyudin, dari Palestina.
9. Syekh Subakir, dari Iran, Ahli ruqyah.
Wali Songo Angkatan ke-2, tahun 1436 M, terdiri dari :
1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan
2. Maulana Ishaq, asal Samarqand, Rusia Selatan
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, asal Mesir
4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi, asal Maroko
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina
7. Maulana Hasanuddin, asal Palestina
8. Maulana 'Aliyuddin, asal Palestina
9. Syekh Subakir, asal Persia Iran.
Wali Songo Angkatan ke-3, 1463 M, terdiri dari:
1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan
2. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, asal Mesir
4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi, asal Maroko
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim
Wali Songo Angkatan ke-4,1473 M, terdiri dari :
1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan
2. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim
3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak
4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim
Wali Songo Angkatan ke-5,1478 M, terdiri dari :
1. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim
2. Sunan Muria, asal Gunung Muria, Jawa Tengah
3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak
4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Syaikh Siti Jenar, asal Persia, Iran
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim
Wali Songo Angkatan ke-6,1479 M, terdiri dari :
1. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim
2. Sunan Muria, asal Gunung Muria, Jawa Tengah
3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak
4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Sunan Tembayat, asal Pandanarang
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim
*Hubungan Kesultanan Nusantara Dengan Kerajaan Islam di Turki dan Arab*
Hubungan antara kerajaan Islam Aceh dengan Khilafah Utsmaniyah juga dapat diketahui dari keterangan seorang sejarahwan, Bernard Lewis, yang mengungkapkan bahwa pada tahun 1563 Masehi pembesar kerajaan Aceh mengutus seseorang ke Istanbul guna meminta bantuan melawan Portugis. Dia berusaha meyakinkan Khilafah bahwa raja-raja di kawasan tersebut telah bersedia memeluk Islam jika Khalifah Utsmaniyah mau menolong mereka.
Namun sayangnya pada saat itu Kekhalifahan Utsmaniyah sedang mengalami berbagai permasalahan genting yaitu pengepungan Malta dan Szigetvar di Hungaria dan mangkatnya Sultan Sulaiman Agung. Setelah terhambat selama dua bulan akhirnya mereka membentuk sebuah armada perang yang terdiri dari 19 unit kapal perang dan beberapa kapal pengangkut persenjataan dan persediaan untuk dikirim ke Aceh.
Hal yang disayangkan adalah sebagian besar kapal tersebut tidak pernah tiba di Aceh. Kapal-kapal tersebut dialihkan untuk tugas yang lebih mendesak yaitu memulihkan kekuasaan Utsmaniyah di Yaman. Kapal yang tiba di Aceh hanya dua unit saja dan langsung digunakan untuk mengusir Portugis. Catatan Sejarah mengenai hal ini dapat ditemukan dalam berbagai arsip dokumen negara Turki dan buku-buku yang ditulis oleh sejarahwan dunia.
Selain itu dalam Bustanus Salatin karangan Nuruddin ar-Raniri juga disebutkan bahwa kesultanan Aceh telah menerima bantuan militer dari Khalifah Utsmaniyah berupa senjata disertai pengajar yang khusus dikirim untuk mengajarkan cara pemakaiannya.
Kaitan antara kesultanan Banten dengan kerajaan di Timur Tengah juga dapat terlihat dari gelar-gelar kehormatan yang diberikan kepada para pembesar kerajaan Islam di Nusantara. Gelar tersebut di antaranya:
- Kesultanan Banten
Abdul Qadir dianugerahi gelar Sultan Abulmafakir Mahmud Abdul Kadir oleh Syarif Zaid, Syarif Mekkah saat itu.
- Kesultanan Mataram
Pangeran Rangsang memperoleh gelar Sultan Abdullah Muhammad Maulana Matarami dari Syarif Mekah pada tahun 1641 Masehi.
Pada tahun 1652 hubungan antara kesultanan Aceh dan Turki juga semakin erat dengan adanya pengiriman utusan Aceh ke Turki dalam upaya meminta bantuan meriam. Khalifah Utsmaniyah mengirim 500 orang pasukan Turki untuk mengawal pengiriman meriam dan amunisi.
Selanjutnya pada tahun 1567, Sultan Salim II mengirim armada ke Sumatera. Melihat kedekatan antara kaum muslimin di Nusantara dengan Kekhalifahan Utsmaniyah, seorang pejabat pemerintahan kolonial Belanda, Snouck Hurgronje, mengatakan, "Di kota Mekah terletak jantung kehidupan agama kepulauan Nusantara, yang setiap detik selalu memompakan darah segar ke seluruh penduduk Muslim di Nusantara."
Menjelang abad modern pun hubungan tersebut masih terjalin baik, terbukti pada akhir abad 20 konsulat Turki di Jakarta pernah membagikan Al Quran atas nama Sultan Turki. Istanbul juga pernah mencetak tafsir Al Quran berbahasa melayu karangan Abdur Rauf Sinkili. Pada halaman depan tafsir al Quran tersebut tertulis "Dicetak oleh Sultan Turki, raja seluruh orang Islam." Pada saat itu yang disebut Sultan Turki adalah Khalifah yang merupakan pemimpin Khilafah Utsmaniyah berpusat di Turki.
Snouck Hurgronje juga pernah mengatakan bahwa pada umumnya rakyat di Indonesia terutama mereka yang tinggal di pelosok daerah di seluruh tanah air, memandang Stambol (sebutan untuk Khalifah Utsmaniyah) masih sebagai raja bagi seluruh orang mukmin yang saat itu kekuasaannya agak berkurang karena adanya penguasaan orang kafir di Indonesia.
Melihat fakta-fakta sejarah tersebut maka dapat disimpulkan bahwa memang Nusantara pada jaman dahulu adalah bagian dari khilafah baik saat kekuasaan Khilafah Abbasiyah Mesir maupun Khilafah Utsmaniyah Turki.
Berdasarkan bentuk kekhalifahan saat itu, Syarif Mekah adalah seorang gubernur pada masa Khilafah Abbasiyah dan Khilafah Utsmaniyah untuk daerah Hijaz. Karena itu penganugerahan gelar sultan kepada para pembesar kerajaan Islam di Nusantara lebih merupakan pengukuhan sebagai penguasa Islam dan bukan gelar semata.
*Sejarah Masuknya Agama Islam Di Indonesia*
Sebelum kita mengenal beberapa teori tentang penyebaran Islam di Nusantara, perlu di perhatikan bahwa Politik Luar Negeri Negara Khilafah terdiri dari dua; Da’wah dan Jihad. Awalnya negeri yang ditargetkan akan diberi dakwah, ketika menerima maka tidak ada perang di sana. Namun, ketika menolak, maka akan terjadi Jihad dan Futuhat (Pembebasan). Dua hal ini adalah politik Luar Negeri, dimana di setiap perkembangan akan disampaikan kepada Khalifah.
Itu pula yang terjadi di Indonesia. Jika penyebaran Islam di lakukan oleh pedagang semata, bukan Da’i atau utusan, maka apakah akan ada laporan kepada Khalifah? Lalu, apakah penyebaran lewat jalur perdagangan merupakan Politik Luar Negeri? Apakah penyebaran Islam dengan jalur perdagangan hanya propaganda untuk menutupi bahwa Nusantara pernah menjadi fokus dakwah Islam dan menjadi bagian dari Khilafah?
Dari teori Islamisasi oleh Arab dan China, Hamka dalam bukunya Sejarah Umat Islam Indonesia, mengaitkan dua teori Islamisasi tersebut. Islam datang ke Indonesia pada abad ke-7 Masehi. Penyebarannya pun bukan dilakukan oleh para pedagang dari Persia atau India, melainkan dari Arab. Sumber versi ini banyak ditemukan dalam literatur-literatur China yang terkenal, seperti buku sejarah tentang China yang berjudul Chiu Thang Shu.
Menurut buku ini, orang-orang Ta Shih, sebutan bagi orang-orang Arab, pernah mengadakan kunjungan diplomatik ke China pada tahun 651 Masehi atau 31 Hijriah. 4 tahun kemudian, dinasti yang sama menerima delegasi dari Tan Mi Mo Ni, sebutan untuk Amirul Mukminin. Selanjutnya, buku itu menyebutkan, bahwa delegasi Tan Mi Mo Ni tersebut merupakan utusan yang dikirim oleh khalifah yang ketiga. Ini berarti bahwa Amirul Mukminin yang dimaksud adalah Khalifah Utsman bin Affan.
Pada masa berikutnya, delegasi-delegasi muslim yang dikirim ke China semakin bertambah. Pada masa Khilafah Umayyah saja, terdapat sebanyak 17 delegasi yang datang ke China. Kemudian pada masa Dinasti Abbasiyah, ada sekitar 18 delegasi yang pernah dikirim ke China.
Bahkan pada pertengahan abad ke-7 Masehi, sudah terdapat perkampungan-perkampungan muslim di daerah Kanton dan Kanfu. Sumber tentang versi ini juga dapat diperoleh dari catatan-catatan para peziarah Budha-China yang sedang berkunjung ke India. Mereka biasanya menumpang kapal orang-orang Arab yang kerap melakukan kunjungan ke China sejak abad ketujuh. Tentu saja, untuk sampai ke daerah tujuan, kapal-kapal itu melewati jalur pelayaran Nusantara.
Beberapa catatan lain menyebutkan, delegasi-delegasi yang dikirim China itu sempat mengunjungi Zabaj atau Sribuza, sebutan lain dari Sriwijaya. Umumnya mereka mengenal kebudayaan Budha Sriwijaya yang sangat terkenal pada masa itu. Kunjungan ini dikisahkan oleh Ibnu Abd al-Rabbih, ia menyebutkan bahwa sejak tahun 100 hijriah atau 718 Masehi, sudah terjalin hubungan diplomatik yang cukup baik antara Raja Sriwijaya, Sri Indravarman dengan Khalifah Umar Ibnu Abdul Aziz.
Lebih jauh, dalam literatur China itu disebutkan bahwa perjalanan para delegasi itu tidak hanya terbatas di Sumatera saja, tetapi sampai pula ke daerah-daerah di Pulau Jawa. Pada tahun 674-675 Masehi, orang-orang Ta Shi (Arab) yang dikirim ke China itu meneruskan perjalanan ke Pulau Jawa. Menurut sumber ini, mereka berkunjung untuk mengadakan pengamatan terhadap Ratu Shima, penguasa Kerajaan Kalingga, yang terkenal sangat adil itu.
Pada periode berikutnya, proses Islamisasi di Jawa dilanjutkan oleh Wali Songo. Mereka adalah para muballig yang paling berjasa dalam mengislamkan masyarakat Jawa. Dalam Babad Tanah Djawi disebutkan, para Wali Songo itu masing-masing memiliki tugas untuk menyebarkan Islam ke seluruh pelosok Jawa melalui tiga wilayah penting. Wilayah pertama adalah Surabaya, Gresik, dan Lamongan di Jawa Timur.
Wilayah kedua adalah, Demak, Kudus, dan Muria di Jawa Tengah. Dan wilayah ketiga adalah, Cirebon di Jawa Barat. Dalam berdakwah, para Wali Songo itu menggunakan jalur-jalur tradisi yang sudah dikenal oleh orang-orang Indonesia kuno. Yakni melekatkan nilai-nilai Islam pada praktik dan kebiasaan tradisi setempat. Dengan demikian, tampak bahwa ajaran Islam sangat luwes, mudah dan sanggup memenuhi kebutuhan masyarakat Jawa saat itu.
Selain berdakwah dengan tradisi, para Wali Songo itu juga mendirikan pesantren-pesantren, yang digunakan sebagai tempat untuk menelaah ajaran-ajaran Islam. Pesantren Ampel Denta dan Giri Kedanton, adalah dua lembaga pendidikan yang paling penting di masa itu. Bahkan dalam pesantren Giri di Gresik, Jawa Timur itu, Sunan Giri berhasil mendidik ribuan santri yang akhirnya dikirim ke beberapa daerah di Nusa Tenggara dan wilayah Indonesia Timur lainnya.
*Penjajah Belanda Menghapuskan Jejak Khilafah*
Pada masa penjajahan, Belanda berusaha menghapuskan penerapan syariah Islam oleh hampir seluruh kesultanan Islam di Indonesia. Salah satu langkah penting yang dilakukan Belanda adalah menyusupkan pemikiran dan politik sekuler melalui Snouck Hurgronye. Dia menyatakan dengan tegas bahwa musuh kolonialisme bukanlah Islam sebagai agama.
Dari pandangan Snouck tersebut penjajah Belanda kemudian berupaya melemahkan dan menghancurkan Islam dengan 3 cara. Pertama: memberangus politik dan institusi politik/pemerintahan Islam. Dihapuslah kesultanan Islam. Contohnya adalah Banten. Sejak Belanda menguasai Batavia, Kesultanan Islam Banten langsung diserang dan dihancurkan. Seluruh penerapan Islam dicabut, lalu diganti dengan peraturan kolonial Belanda.
Kedua: melalui kerjasama raja/sultan dengan penjajah Belanda. Hal ini tampak di Kerajaan Islam Demak. Pelaksanaan syariah Islam bergantung pada sikap sultannya. Di Kerajaan Mataram, misalnya, penerapan Islam mulai menurun sejak Kerajaan Mataram dipimpin Amangkurat I yang bekerjasama dengan Belanda.
Ketiga: dengan menyebar para orientalis yang dipelihara oleh pemerintah penjajah. Pemerintah Belanda membuat Kantoor voor Inlandsche zaken yang lebih terkenal dengan kantor agama (penasihat pemerintah dalam masalah pribumi). Kantor ini bertugas membuat ordonansi (UU) yang mengebiri dan menghancurkan Islam. Salah satu pimpinannya adalah Snouck Hurgronye.
Dikeluarkanlah: Ordonansi Peradilan Agama tahun 1882, yang dimaksudkan agar politik tidak mencampuri urusan agama (sekularisasi); Ordonansi Pendidikan, yang menempatkan Islam sebagai saingan yang harus dihadapi; Ordonansi Guru tahun 1905 yang mewajibkan setiap guru agama Islam memiliki izin; Ordonansi Sekolah Liar tahun 1880 dan 1923, yang merupakan percobaan untuk membunuh sekolah-sekolah Islam. Sekolah Islam didudukkan sebagai sekolah liar.
Demikianlah, syariat Islam mulai diganti oleh penjajah Belanda dengan hukum-hukum sekuler. Hukum-hukum sekuler ini terus berlangsung hingga sekarang. Maka tidak salah jika dikatakan bahwa hukum-hukum yang berlaku di negeri ini saat ini merupakan warisan dari penjajah, sesuatu yang justru seharusnya dienyahkan oleh kaum Muslim, sebagaimana mereka dulu berhasil mengenyahkan sang penjajah: Belanda.
*Edited by: Bintang.*
Asal usul hadroh banjari
Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah bin Abdur Rahman al-Banjari (atau lebih dikenal dengan nama Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (lahir di Lok Gabang, 17 Maret 1710 – meninggal di Dalam Pagar, 3 Oktober 1812 pada umur 102 tahun atau 15 Shofar 1122 – 6 Syawwal 1227 H)[3] adalah ulama fiqih mazhab Syafi'i yang berasal dari kota Martapura di Tanah Banjar (Kesultanan Banjar), Kalimantan Selatan. Beliau hidup pada masa tahun 1122-1227 hijriyah. Beliau mendapat julukan anumerta Datu Kelampaian.
Beliau adalah pengarang Kitab Sabilal Muhtadin yang banyak menjadi rujukan bagi banyak pemeluk agama Islam di Asia Tenggara.[4]
al-banjari ini asalnya dari daerah banjar masin tetapi lebih populer di mainkan di daerah jawa timur. dan al-banjari ini terdiri dari 2 kata yaitu BAN & JARI , BAN berasal dari kata BAND yang bermakna suatu group dan kata JARI itu di lihat dari cara memainkan alat music tersebut (terbang) dengan menggunakan jari , jadi pengertiannya adalah suatu group yang memainkan alat musiknya dengan menggunakan jari .pada umumnya al-banjari ini biasanya di isi dengan lagu religi seperti solawat dan syi'ir dari negara syiria, tetapi kandungan makna dari semua jenis lagu-lagu tersebut tidak lain hanyalah menyanjung baginda rosululloh MUHAMMAD saw.
Al-banjari ini terdiri dari 10 anggota maximal, 5 orang pada focal dan 5 pada pemukul terbang.pada perinciannya adalah :
UNTUK PADUAN SUARA FOKAL :
a. 1 fokal utama
b. 1 beaking fokal suara biasa ( suara pengganti fokal utama )
c. 1 beaking fokal suara 2 / suara minor
d. 1 beaking fokal suara 3 / suara tenor
e. 1 beaking fokal suara bass
UNTUK PEMUKULNYA ADALAH :
a. pemukul terbang lanangan utama
b. pemukul terbang wedok'an utama
c. pemukul terbang golongan lanangan
d. pemukul terbang golongan wedok'an
e. pemukul terbang bass
Pada intinya al-banjari ini melatih kekompakan suatu tim / group , karna di saat sholawat al-banjari ini memulai bermain maka semua orang yang terlibat dalam group tersebut saling melengkapi satu sama lain ,
semisal terbang lanangan utama dengan terbang wedok'an utama beriring-iringan maka yang terbang golong lanangan maupun yang golong wedok'an itu saling memperjelas ketukan irama, dan yang terbang bass sebagai tempo ketukan irama .
Begitu juga dengan suaranya lagu yang di lantunkan dengan metode paduan suara yang mana menjadikan sholawat al-banjari menjadikan syahdu dan menjadikan hati kita tentram dan rasa cinta kita kepada baginda rosululloh MUHAMMAD SAW menjadi bertambah .
yang penting niat kita untuk sholawatan karna ALLOH semata, bukan untuk yang lainnya .
ALLOHUMMA SOLLI ALA SAIYIDINA MUHAMMAD ......?
Cara menjawab salam
Bagaimana cara jawab salam titipan
Misal suatu saat kita dapat salam dari seseorang :
"Mas dapat salam dari ustadz yang tadi khutbah"
Atau
"Teh dapat salam dari ustadzah teteh, katanya hafalan teteh makin bagus"
Biasanya kita jawab :
Iya, Waalaikumsalam (keselamatan senantiasa untuk kalian)
Kalau jawab 'waalaikumsalam'
maka kita hanya mendoakan orang yang menyampaikan
Karena kata 'kum' dalam ilmu nahwu adalah 'dhamir mukhatab' atau kata ganti orang yang ada di hadapan kita, sehingga orang yang menitip salam belum mendapatkan doa dari kita
Bagaimana sih cara jawabnya
Ternyata di zaman Rasul juga ada titip salam lho
“Sesungguhnya ayahku mengucapkan salam kepadamu”. Maka Nabi Shallahu alaihi wa sallam menjawab, “ ‘Alaika wa ‘alaa abiikas salaam (Semoga keselamatan atas kamu dan atas bapakmu)”. [HR, Abu Dawud juz 4, hal. 358, no. 5231]
Berkata al-Allamah Ibnu Qoyyim rahimahullah, “Di antara petunjuk Nabi Shallallahu alaihi wa sallam adalah apabila Seseorang menyampaikan salam kepadanya dari orang selainnya, Beliau menjawab salam orang yang menyampaikan salam tersebut dan orang yang menitipkannya”.
Nah jadi gimana cara jawabnya
Kalau dirinci cara menjawabnya tergantung yang menyampaikan dan yang menitip salam:
⭐ Kalau yang menyampaikan laki2 dan menitip salam juga laki2
Jawab kita :
'Alaika wa 'Alaihis salam =
Semoga keselamatan selalu untukmu(lk) dan untuknya(lk)
⭐Kalau yang menyampaikan laki2 dan yang menitip salam perempuan
Jawab kita :
'Alaika wa 'Alaihas salam =
Semoga keselamatan selalu untukmu(lk) dan untuknya(pr)
⭐Kalau yang menyampaikan perempuan dan yang menitip salam laki2
Jawab kita :
'Alaiki wa 'Alaihis salam
Semoga keselamatan untukmu (pr) dan atasnya(lk)
⭐ Kalau yang menyampaikan perempuan dan yang menitip salam perempuan
Jawab kita :
'Alaiki wa 'Alaihas salam
Semoga keselamatan untukmu (pr) dan atasnya (pr)
Rumus
Untuk mengingat2 , kita rinci ada 3 tahapan :
⭐Siapa yang menyampaikan
Kalau yang menyampaikan laki2 :
'Alaika = Atasmu (laki2)
Kalau yang menyampaikan perempuan :
'Alaiki = Atasmu (perempuan)
⭐ Digabung dengan siapa yang menitip salam
Kalau yang nitip salam laki2 :
'Alaihi = atasnya (laki2)
Kalau perempuan
'Alaiha = atasnya (perempuan)
Adapun kata sambungnya : Wa (dan)
⭐Kemudian tambahkan di belakngnya lafal 'salam' yang artinya keselamatan
Contoh Penggunaan seperti di atas
Boleh ditambahkan 'wa rahmatullahi wa barakatuh' (kasih sayang Allah dan keberkahan) sebagaimana dicontohkan oleh Aisyah ra saat mendapat salam dari malaikat Jibril
Dari Aisyah radliyallahu anha, bahwasanya Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam bersabda kepadanya,
يَا عَائِشَةُ هَذَا جَبْرِيْلُ يَقْرَأُ عَلَيْكِ السَّلَامَ فَقَالَتْ: وَ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ تَرَى مَا لَا أَرَى –تريد النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم
“Wahai Aisyah, ini Jibril menyampaikan salam kepadamu”. Aisyah berkata, “Salam juga untuknya, rahmat dan berkah Allah semoga dilimpahkan kepadanya. Engkau dapat melihat perkara-perkara yang tidak dapat aku lihat –yang dimaksud Nabi Shallallahu alaihi wa sallam-“. [HR al-Bukhoriy: 3217, 3768, 6201, 6249 Muslim: 2447, Abu Dawud: 5232 dan at-Turmudziy: 2846]
Di dalam musnad al-Imam Ahmad terdapat tambahan , Aisyah radliyallahu anha berkata,
فَقُلْتُ: وَ عَلَيْكَ وَ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ
‘Aku menjawab, “Salam pula untukmu (yaitu Rasululullah shallahu alaihi wa sallam) dan semoga salam, rahmat dan berkah Allah Azza wa Jalla dilimpahkan untuknya”. [HR Ahmad: VI/ 117].
Semoga bermanfaat .
Biografi almaghfurlah mbah yai nafi' kajen
KH. A. Nafi’ Abdillah
Oleh: Jamal Ma'mur A*
Sang Penyejuk Jiwa Telah Dipanggil Yang Kuasa
KH. Nafi' Abdillah dipanggil Yang Maha Kuasa. Menurut keluarga, beliau wafat di Turki pada hari ahad, 22 Jumadil Ula 1438 H./ 19 Februari 2017. KH. A. Nafi’ Abdillah adalah putra KH. Abdullah Zein Salam bin KH. Abdussalam. Kakeknya KH. Abdussalam adalah pendiri Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM) Kajen yang dulu dikenal dengan Sekolah Arab. Bapaknya KH. Abdullah Zen Salam adalah penerus estafet kepemimpinan Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM) setelah KH. Mahfudh Salam, ayahanda KH. MA. Sahal Mahfudh. KH. A. Nafi’ Abdillah sendiri adalah penerus estafet kepemimpinan Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM) setelah wafatnya KH. MA. Sahal Mahfudh. Beliau adalah sosok yang bersahaja, santun, dan ramah kepada siapapun. Sebagai seorang mursyid thariqah, beliau mempunyai jamaah yang tingkat keilmuan dan strata sosialnya beragam, namun beliau mampu mengayomi semua tanpa diskriminasi.
Penulis bertemu pertama kali dengan KH. A. Nafi’ Abdillah ketika mengenyam pendidikan di Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM). Ketika itu beliau mengajar Ushul Fiqh. Setelah membaca kitab Ushul Fiqh Ghayatul Wushul karya Zakariyya Al-Anshari rahimahullah, Kiai Nafi’ dengan tenang menulis keterangan di papan tulis secara sistematis dengan bagan-bagan yang memudahkan para siswa untuk memahami materi yang tergolong sulit ini dalam bentuk bahasa arab, kemudian beliau menjelaskannya dengan lugas dan renyah. Pancaran kewibawaan beliau dalam mengajar berbarengan dengan keteladanan beliau dalam mengajar.
Beberapa karakter utama beliau adalah:
Pertama, tawadlu’, rendah hati. Beliau sosok yang tidak ingin menonjolkan diri. Jarang beliau berkenan memberikan mauidhah hasanah di depan panggung, kecuali dalam momentum tertentu, seperti haul Masyayikh PIM yang biasa digelar akhir tahun oleh Keluarga Mathaliul Falah (KMF) sebagai organisasi alumni PIM. Dengan nada guyon, beliau sering mengatakan kepada para tamu, bahwa pondok Mathaliul Huda (PMH Pusat) bukan pondok beliau. Hal ini mencerminkan kerendahhatian beliau dalam bertutur sapa dan bersikap.
Kedua, istiqamah. Beliau mewarisi sifat utama ini dari bapaknya KH. Abdullah Zein Salam. Beliau masuk dan keluar dari kelas tepat waktu sebagai teladan bagi para guru. Menurut beliau, mengajar adalah wajib yang harus dilaksanakan dan tidak boleh ditinggal kecuali dengan alasan wajib. Hal ini sesuai kaidah fiqh “al-wajibu la yutraku illa lil-wajibi”, kewajiban tidak boleh ditinggalkan kecuali karena sesuatu yang wajib pula. Kewajiban tidak boleh ditinggalkan untuk sesuatu yang hukumnya sunnah, apalagi mubah.
Ketiga, ikhlas. Beliau begitu menekankan pentingnya ikhlas sebagai intisari amal. Hanya dengan ikhlas (beramal hanya karena Allah), seseorang dekat dengan Allah dan hatinya tenang dari segala gangguan yang datang dari setan, nafsu dan sesama manusia. Jangan melakukan sesuatu dengan motivasi selain Allah, karena rugi dunia-akhirat. Dalam mengajar misalnya, ikhlas adalah faktor utama terpancarnya nur (cahaya) ilmu menembus batin siswa. Tanpa keikhlasan, sangat sulit melahirkan siswa yang shaleh. Dengan ikhlas, segala urusan ditujukan dan dihadapkan kepada Allah SWT.
Keempat, mencintai ilmu. Beliau adalah sosok yang tekun membaca kitab, mulai kitab kecil, seperti Safinatus Shalah karya Imam Nawawi al-Bantani yang menjelaskan tata cara shalat secara detail, sampai kitab tasawuf legendaris karya Ibnu Athaillah al-Sakandari, yaitu Hikam. Pengajian kitab ini bahkan beberapa bulan sudah diadakan di Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM) bersama para guru. Pengajian beliau di Masjid Jami’ Kajen dan di ndalem selalu diikuti ratusan bahkan ribuan jama’ah yang begitu merindukan petuah-petuah emas dari beliau.
Kelima, menyayomi dengan hati dan tidak mengintimidasi. Kesadaran hati beliau kedepankan dari pada pemaksaan kehendak. Dengan pendekatan hati, seseorang menjadi sadar. Ketika dalam suatu rapat di Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM), guru-guru sedikit gundah karena masalah tertentu, beliau memberikan nasehat mengutip ucapan (dawuh) ayahandanya KH. Abdullah Zein Salam bahwa dalam hidup prinsip yang harus dipegang adalah ojo gelo (jangan menyesal) dengan setiap kejadian karena semua sudah menjadi takdir Allah SWT. sehingga sebagai hamba Allah harus menerima dan ridla dengan takdir Allah. Semua guru ketika mendengarkan nasehat beliau ini tertegun, sadar, dan menjadi ingat Allah sebagai bekal dalam mengarungi kehidupan yang penuh cobaan dan tantangan.
Keenam, teguh memegang prinsip. Ketika mempunyai prinsip, beliau pegang dengan disiplin, sehingga orang lain segan. Dengan kegigihan memegang prinsip ini, beliau menjadi panutan bagi semua orang. Prinsip-prinsip utama beliau adalah memegang teguh tafaqquh fiddin, mencintai auliyaillah (wali-wali Allah), dan disiplin dalam menjalankan amanah.
Ketujuh, membimbing dengan keteladanan. Sebagai seorang ulama’ kaidah lisanul hal afshahu min lisanil maqal, tindakan lebih efektif dari pada ucapan, benar-benar beliau praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Beliau adalah sosok dengan pertahanan mental yang sangat tinggi, sehingga dalam menyikapi segala hal selalu menampakkan kesejukan, kematangan, dan kearifan, bukan luapan emosi dan ejekan yang justru memperkeruh suasana dan tidak menjadi solusi. Sebagai seorang pemimpin dan mursyid thariqah, ucapan dan tindakan beliau menjadi marji’ul ummah (referensi umat) dalam bersikap dan bertindak.
Kedelapan, tegas dalam mengambil keputusan. Dalam mengambil keputusan apapun, ketegasan beliau jaga. Seorang pemimpin tidak boleh plin-plan dalam mengambil keputusan karena keputusannya diikuti oleh seluruh anggota tanpa terkecuali. Dalam hal masuk sekolah, beliau begitu gigih melaksanakannya. Beliau akan tetap masuk mengajar, meskipun banyak siswa yang tidak hadir. Ketegasan beliau ini menjadi teladan bagi para pemimpin di negeri ini sehingga keputusan yang diambil diikuti oleh seluruh anggotanya.
Kesembilan, kaderisasi. KH. A. Nafi’ Abdillah adalah sosok yang memperhatikan kaderisasi, sehingga memperhatikan pertumbuhan kader-kader muda, karena merekalah yang nanti meneruskan estafet keilmuan dan perjuangan ulama. Ketika masih di Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM), saya bersama teman-teman seksi pendidikan HSM (Himpunan Siswa Mathali’ul Falah) dan siswa-siswa yang lain pernah dua minggu di ndalem beliau untuk mematangkan persiapan berangkat ke Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang Rembang untuk mengikuti forum bahtsul masail. Di ndalem beliau saat itu, selain beliau ada KH. Zainuddin Dimyati, KH. Ali Fattah Ya’qub, KH. Ahmad Yasir, dan K. Nurhadi Pesarean. Beliau begitu antusias melihat semangat siswa-siswi dalam tafaqquh fiddin.
Ya Allah, ampunilah semua dosa guru kami ini, siramilah dengan rahmah dan ridla-Mu, tempatkan beliau dalam maqam yang mulia, tabahkan keluarga dan santri yang ditinggalkan, dan lahirkan ulama-ulama yang sejuk, santun, dan ramah seperti beliau, Amiin ya Rabbal Alaamiin.
*Santri KH. A. Nafi’ Abdillah di Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM) Kajen Tahun 1995-1997.
Maqolah almaghfurlah mbah yai nafi' kajen
Salam Silaturahmi al Alamah al arifbillah Hadrotussyekh KH. Nafi' Abdullah Salam Kajen,
wejangan Sufi Mbah Nafi,
1. "Nek donyo ora usah luru kemulyaan, sebab kemulyaan ora kanggo nek dunyo nanging Allah SWT maringi kemulyaan nek akhirat iku sing hakikat. kapan sopo wonge entuk kemulyaan nek donyo ora bakal nek akhirat entuk kemulyaan." wallahu'alam.
2. "Nek dunyo akeh fitnah, sopo wae sing seneng dunyo mesti akeh fitnahe." wallahu'alam.
3. "rizki ora usah diluru, nek luru rizki mesti ibadahem walkeduwal."wallahu'alam.
4. Ngendikane Mbah Dullah marang aku (Mbah Nafi) wayah tahlil kapundute Mbah Muzayyin, aku diweling Mbah Dullah "Besok nek aku mati ojo diumumno yo, cepet-cepet dimakamno, nek apik ben dang ngerti panggone, nek elek ben dang reti panggone. ora usah diwarak-warakno." wallahu'alam.
5. "Wong sholat iku kudu sabar. wayah moco fatihah yo sabar. wayah ruku' yo sabar. wayah opo wae nek njerone sholat kudu sabar lan tuma'ninah." wallahu'alam.
6. "Sepodo-podo iku kudu welas asih. sebab wong iku ora ngerti pastine. sing perso pastine wong namung Allah SWT."wallahu'alam.
7. "Nek Njerone ati iku ojo sampek sepi sangking dzikir, kapan sepi songko dzikir mesti setan gampang mlebu." wallahu'alam.
8. "Medit-medite wong kapan ono asmane kanjeng Nabi Muhammad Saw disebut ora gelem jawab besok nek akhirat bakal dadi wong sing bangkrut."wallahu'alam.
9. "Ketoke wong akeh podo ngaji mrene (masjid Kajen), tapi kadang niate bedo-bedo." wallahu'alam.
10. "Akeh wong sing kepingin ben diarani apik, iku malah iso dadikno rusake amal." wallahu'alam.
11. "Sak durunge mlebu toriqoh kudu syariate kuat ndisik, sebab opo, pondasi/dasare ibadah iku nek syariat. syariat iku sing gawe kanjeng Nabi Muhammad Saw. kapan ora manut syariate Kanjeng Nabi Muhammad Saw berarti ora umate Kanjeng Nabi Muhammad Saw." wallahu'alam.
12. "Aku ngaji ngeniki, durung tentu aku luweh pinter karo sampeyan. aku mek tukang moco tok, nek ono makno sing suloyo, durung iso ngelakoni opo sing tak woco, aku yo ojo ditukari, yo ojo dicegat nek ratan. mulane aku tau ditawari gelar doktor tapi kon bayar 10 juta tapi aku moh. duwe gelar doktor nek ditakoki ora bejos jawab dak malah piye. wong basa arab wae isih ngene kok. tapi mbeke profesor lah durung karuan iso moco kitab salaf."wallahu'alam.
13. "Kabeh kedadian nek dunyo Allah sing Ngudaneni, makhluk ojo melu ngatur kehendak Allah Swt." wallahu'alam.
14. "Istighfarmu kudu di istighfari meneh, sebab lakonmu istighfar durung murni kerono Allah Swt. tapi nek lambe-lambe tok" wallahu'alam.
15. "Akeh-akehno moco salawat Nabi Muhammad Saw." wallahu'alam.
16. "Kuwe nek bar shalat fardlu kirimo fatihah tujokno Mbah Mutamakin, insya Allah ono labet apek." wallahu'alam.
17. "Bapak/Mbah Dullah, ndisik nek minterno anak-anake dikon sinau terus kapan ora iso moco kitab dianggep ora anake, sakliane sinau setiap sedekah Mbah Dullah, diniati nyedekahi anak ben dadi wong kabeh." wallahu'alam.
18. "Wayah wong sakratul maut, sing manjeng nek pinggirem antara setan karo malaikat, mongko wong sing ape mati iku kudu dituntun karo syahadat lan tahlil."wallahu'alam.
19. "Aku moh dadi kiai, sebab abot dadi kiai, tanggungjawabe nek akhirat tambah abot kerono durung iso ngelakoni, aku ngaji iki yo ngji karo mushonef/pengarang kitab. ngaji nek kene (Masjid Kajen), aku mek macakno tok keranten diutus Bapak/Mbah Dullah. La aku nek gak anut ora dianggep anak dak payah dewe aku." wallahu'alam.
sampun rien njeh, asline taseh katah, ananging niki kangge kulo sinau / pelajaran teladan lan ikhlas.
Dawuhe Mbah Nafi, "Nek iku pelajaran yo tular-tularno nek konco-koncomu, meski akeh rahasia-rahasia, tapi nek rahasia kdu khusus."
semoga manfaat dan penuh hikmah.
sungkem ta'dhim kagem Syekh Nafi Abdillah Salam Kajen. al-Fatihah....
semoga amal ibadah panjenengan dilipatgandakan Allah SWT, dan ditempatkan di surga. Amin.
Merantaulah kata imam Syafi'i
ﺗﻐﺮﺏ ﻋﻦ ﺍﻷﻭﻃﺎﻥ ﻓﻲ ﻃﻠﺐ ﺍﻟﻌﻼ ... ﻭﺳﺎﻓﺮ ﻓﻔﻲ ﺍﻟﺴﻔﺎﺭ ﺧﻤﺲ ﻓﻮﺍﺋﺪ
ﺗَﻔَﺮُّﺝُ ﻫﻢ ، ﻭﺍﻛﺘﺴﺎﺏ ﻣﻌﻴﺸﺔ ... ﻭﻋﻠﻢ ﻭﺁﺩﺍﺏ ، ﻭﺻﺤﺒﺔ ﻣﺎﺟﺪ
1. imam syafii selain dikenal ahli fiqh, beliau juga pakar sastra, diwan syafi'i adalah salah satu magnum opusnya dibidang sastra #merantau
2. salah satu bait puisi yang sangat indah dikenang adalah tentang #merantau, cocok bagi yang sedang kuliah atau kerja di tanah orang
3. beliau memotivasi kita untuk #merantau dan mengatakan dengan tegas : pergilah dari tanah airmu untuk mencari prestasi yang tinggi mulia !
4. maka #merantau lah, karena dalam bepergian dan perjalanan setidaknya kita akan temukan lima manfaat besar di dalamnya
5. dengan bepergian #merantau, salah satu manfaatnya adalah menghilangkan kejenuhan dan kesedihan, melepas pikiran kusut dan menyegarkannya
6. #merantau juga membuka wilayah mengais rizki yang lebih luas, di bumi Allah yang luas inilah ditebarkan rejekiNya ke segala penjuru arah
7. rasulullah SAW juga #merantau saat masih kecil untuk berdagang bersama pamannya, dan begitupula saat remaja menjelang dewasa
8. dalam banyak ayat kita diminta #merantau dlm arti menyebar ke seluruh bumi, mencari rejeki Allah SWT, dengan senantiasa berzikir
9. manfaat #merantau berikutnya adalah mendapatkan dan meningkatkan ilmu, karena setiap tempat ada alimnya, dan setiap alim ada ilmunya
10. #merantau adalah kebiasaan para ulama, jadwal rutin mengais ilmu dari satu guru ke guru lainnya, menelusuri lembah, gurun bahkan lautan
11. dengan #merantau kita juga belajar budaya, adat dan kebiasaan orang. semakin banyak bertemu orang, kita belajar mengenal ragam karakter
12. mengenal seluk beluk adat kebiasaan, memahami cara pandang yang berbeda, akan memperlapang dada kita saat harus berbeda #merantau
13. dengan #merantau kita bertemu sahabat baru, teman yang akrab, dan tentu saja jaringan yang menjanjikan, ubahlah jadi harapan masa depan
14. itulah lima manfaat #merantau yang digubahkan imam syafii dalam syairnya, dan beliau sendiri telah membuktikan dalam kehidupan nyatanya
Sarkub (sarjana kuburan )
🌿 *MBAH SHOBIB (SARKUB)* 🌿
Assalamu'alaikum mba mas jhoooon 😎 salam tresno dari kulo untuk dulur°° sedoyo 😊 setiap manusia punya ciri khas dan jalan yang berbeda-beda walau dengan tujuan yang sama, tak jarang perbedaan itu jadi hal yang unik dan menggugah jiwa, tapi tak jarang juga yang justru menjadi fitnah bagi orang°° yang memang enggan berhusnudhon dan enggan bertabayyun...
di siang yang cerah ini, aku sendiri, tiada yang menemani 😚 _loyaa kok malah nembang_😅 iya maksutnya kulo ingin membagikan sebuah kisah yang diperoleh dari eyang kakung Musthofa Bisri (Gus Mus), dan semoga ini bisa menggugah hati kita yang mungkin sedang tidur atau ketiduran.. monggo disimak 👇👇
oleh: Ahmad Musthofa Bishri (Gus Mus)
aku sedang duduk sendiri di ruang tamu, setelah tamu-tamu pamit pulang, ketika itu datang seorang tua berpakaian petani, seperti baru saja mentas dari sawah.
begitu sampai pintu rumah, dia buka tudung kepalanya dan dengan berjongkok mendatangiku. Aku buru-buru mendapatkannya dan 'mendudukkannya' di sebelahku. Dengan sangat sopan, dia memperkenalkan dirinya. (Masya Allah, aku kaget setengah mati. Inikah tokoh yang selama ini diceritakan orang dengan berbagai sebutan, seperti Kiai Khos, Kiai Nyentrik, 'Kiai Jalanan', bahkan ada yang terang-terangan menyebutnya sebagai Wali? Kiai yang sering menolong orang dengan menyamar sebagai orang lain?)
Selain ingin bersilaturahmi, tamu istimewaku itu minta izin untuk memberi sekedar 'uang jajan' kepada anak-anak TK Masyithoh yang letaknya di sebelah rumah. Dia minta tolong ibu guru TK menjelaskan kehadirannya, sebelum kemudian membagikan uang kepada anak-anak sambil mengatakan,
_Mbah dimintakan ampun kepada Allah ya_ 🙂
kemudian setelah perkenalan aneh tersebut, tokoh yang suka menyebut dirinya Sarkub alias _Sarjana Kuburan_ ini sering ke rumah dengan penampilan khas. Tidak lagi seperti petani; tapi campuran antara citra kiai, pengusaha, dan rakyat jelata: mengenakan jas, peci hitam yang lancip, selalu naik mobil yang cukup mewah (paling sering naik jeep Mercedes Benz) dan memakai sandal jepit atau bahkan kadang nyeker, tanpa alas kaki.
kebiasaan istimewa tokoh ini saat rawuh ke rumah: duduk hanya sebentar, lalu minta izin ke dapur, lalu membagi-bagi uang kepada siapa saja yang ada di dapur, lalu minta izin untuk memberi uang kepada ibuku (Almarhumah Nyai Ma'rufah Bishri), kepada mbakyuku (Nyai Muhsinah Cholil), dan ibunya anak-anak (Almarhumah Bu Siti Fatmah). Kemudian bergegas kesana-kemari untuk memberikan uang tidak hanya kepada mereka yang dituju, tapi juga kepada siapa saja yang berpapasan: apakah itu anak-anak, santri, atau orang yang kebetulan lewat. Maka hampir semua penduduk seputar gubug kita hafal kebiasaan istimewa ini.
Aku perhatikan jasnya yang tampak kebesaran dan memiliki banyak saku itu, ternyata bukan sembarang jas. Rupanya saku-saku jas itu penuh dengan uang dan masing-masing berisi uang dengan nominal sendiri-sendiri: saku ini berisi ratusan ribu, saku itu, lima puluhan ribu, yang ini, dua puluhan ribu, yang itu, sepuluhan. Jadi setiap orang 'punya saku'nya sendiri di jas tokoh kita ini.
pasti kebiasaan membagi-bagi uang itu tidak hanya di tempat kami saja. Sebelumnya aku sudah mendengar kebiasaan 'kiai-pengusaha' dermawan ini. Dan ini hanyalah salah satu dari keistimewaan tokoh kiai yang mengaku pernah menjadi khodam atau pelayannya Mbah Kiai Romli Tamim Rejoso..
Kiai yang (seperti halnya Al-'arif billah Syaikh Bahlul dari Baghdad) suka ziarah ke makam Sunan Muria. Hari ini akan diperingati haul tokoh kita ini, KH. Shobiburrahman bin anwar yang masyhur dikenal dengan panggilan Mbah Shobib, di kediamannya Menganti Jepara.
Lahul Faatihah..
_SEKIAN_
saya tutup kata°° bijak dari tukang becak 👇
_ikhlas itu satu hal yang sangat berat dan keikhlasan yang paling berat itu ketika merelakan dia bersanding dengan yang lain_ 😆
loya loya 😂😁✌🏼
Mauidzoh hasanah
_Resume mauidzah hasanah acara Tasyakuran Khataman Ponpes eLSiQ..._
KH.
Katib syuriyah NU, mantan rektor STAINU
*Tentang Haul*
• Ciri² kaum Nahdliyyah, percaya bahwa ada hubungannya antara orang yang sudah meninggal dengan orang yang masih hidup. Makanya di adakan haul... Dan itu juga salah satu cara kita menghargai guru² kita.
• adanya ulama' adalah sebagai paku bumi, andai tidak ada ulama'² mungkin bumi ini akan hancur berantakan. Q.S 02.251
وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الْأَرْضُ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ
Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.
• Salah satu Gunanya membuat pesantren adalah untuk membuat jaringan pahala... Q.S 36.12
Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami _menuliskan apa yang telah mereka kerjakan_ dan _bekas-bekas yang mereka tinggalkan._ (pengaruh nya, warisan pahalanya...)
Walaupun kiyainya wafat, tetapi karena punya murid yang mengajarkan ilmunya, maka terjadilah jaringan pahala... _(Shadaqah jariyah ilmu)._
• آثارهم،
yang baik akan menjadi jaringan pahala, dan keburukan akan menjadi jaringan dosa. MLM.
• dasar haul, _"setiap tahun kanjeng Nabi ziarah ke syuhada' uhud"_ dan ketika susah dekat Kanjeng Nabi mengucapkan salam " سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ
(sambil mengucapkan): "Salamun 'alaikum bima shabartum". Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu." Q.S 13.24
• _"Amal kita di lihat oleh Allah setiap hari senin dan kamis"_ (H)
Makanya di sunnahkan puasa.
• _"Dan amal kita di lihat oleh bapak ibu kalian, guru² kalian yang telah meninggal adalah setiap hari jum'at, dan mereka bahagia jika amal kita baik (wajahnya berseri²), tetapi jika amalnya buruk mereka mendoakan -Ya Allah jangan wafatkan mereka sebelum engkau memberikan hidayah kepada mereka seperti engkau memberikan hidayah kepada kami"_ oleh karena itu kita di anjurkan untuk mengirim pahala kepada ahli kubur di hari jum'at, iki amalan Annahdliyyah.
*Tasyakuran Khotmil Qur'an*
• Imam Ghazali menulis bahwa amal yang paling baik dilakukan oleh lisan adalah - Qira'atul Qur-an, - Dzikir, - Do'a, & - Shalawat.
• Jangan bilang _sudah hafal_ melainkan _baru hafal_ yang konsekuensinya harus mengamalkan dan menjaganya serta mengajarkannya.
• Jangan hanya menjadi orang yang "Shalih" (Baik individu) saja tapi jadilah orang yang "Mushlih" (memperbaiki yang lain).
• Dimanapun berada tetaplah berkhidmah kepada Al-qur'an.
• Niatkanlah semua amal kita untuk menggapai Ridho allah
• _"Betapa banyak amal kecil yang di nilai besar karena besarnya niat, dan betapa banyak amal besar yang di nilai kecil, karena kecilnya niat"._ (Ibnu al-Mubarak)
• _"Kumpulkanlah banyak manusia untuk berdo'a dalam kebaikan karena kita tidak tahu dari mulut yang mana Do'a akan dikabulkan oleh Allah"_
• Tidak ada syariat yang di perintahkan allah kepada hambanya, dan allah melakukannya kecuali shalawat.
_-Jauh El-Madha-_
Cinta nabi muhammad dan dzuriyyahnya
قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - : من مات على حب آل محمد مات شهيدا ألا ومن مات على حب آل محمد مات مؤمنا مستكمل الإيمان . ألا ومن مات على حب آل محمد بشره ملك الموت بالجنة ثم منكر ونكير . ألا ومن مات على حب آل محمد يزف إلى الجنة كما تزف العروس إلى بيت زوجها ، ألا ومن مات على حب آل محمد فتح له في قبره بابان إلى الجنة . ألا ومن مات على حب آل محمد جعل الله قبره مزار ملائكة الرحمة . ألا ومن مات على حب آل محمد مات على السنة والجماعة . ألا ومن مات على بغض آل محمد جاء يوم القيامة مكتوبا بين عينيه آيس من رحمة الله . ألا ومن مات على بغض آل محمد مات كافرا . ألا ومن مات على بغض آل محمد لم يشم رائحة الجنة
تفسير القرآن القرطبي ج:16 ص:23
Rosulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda, "Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mencintai keluarga Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, ia meninggal sebagai syahid. Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mencintai keluarga Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, ia meninggal sebagai orang beriman yang sempurna imannya. barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mencintai keluarga Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, ia diberi kabar gembira oleh malaikat-malaikat akan masuk syurga, kemudian diberi tahu pula oleh dua malaikat munkar dan nakir. ketahuilah barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mencintai keluarga Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, ia akan di arak masuk syurga seperti pengantin perempuan yang di arak menuju rumah suaminya. ketahuilah barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mencintai keluarga Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, di dalam kuburnya ia akan di bukakan dua pintu menuju syurga. ketahuilah barangsiapa yang meninggalkan dalam keadaan mencintai keluarga Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan menjadikan kuburannya tempat ziarahnya para Malaikat, barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mencintai keluarga Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, ia meninggal dalam lingkungan ahlus sunnah wal jamaah. ketahuilah barangsiapa yang meninggal dalam keadaan membenci keluarga Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, pada hari kiamat kelak, ia akan di bangkitkan dalam keadaan tertulis dikeningnya,"orang yang putus asa dari rahmat Allah. ketahuilah barangsiapa yang meninggal dalam keadaan membenci keluarga Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, ia meninggal dalam keadaan kafir. ketahuilah barangsiapa yang meninggal dalam keadaan membenci keluarga Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, ia sedikitpun tidak akan mencium wewangian syurga."
Tafsir Al-Qurtubi.
Doa khatmil Qur'an
بسم الله الرحمن الرحيم
اَللهُمَّ رَبَّنَا يَارَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَتُبْ عَلَيْنَا يَامَولَنَآ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ. وَاهْدِنِيْ وَاهْدِنَا وَوَفِّقْنَا إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيْقٍ مُسْتَقِيْمِ بِبَرَكَةِ خَتْمِ الْقُرْءآنِ الْعَظِيْمِ. وَبِحُرْمَةِ حَبِيْبِكَ وَرَسُوْلِكَ الْكَرِيْمِ. وَاعْفُ عَنَّا يَاكَرِيْمُ وَاعْفُ عَنَّا يَارَحِيْمُ. وَاغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا بِفَضْلِكَ وَكَرَمِكَ يَآأَكْرَمَ اْلأَكْرَمِيْنَ وَيَآأَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ. اَللهُمَّ زَيِّنَّا بِزِيْنَةِ خَتْمِ الْقُرْءَانِ. وَأَكْرِمْنَا بِكَرَامَةِ خَتْمِ الْقُرْءَانِ. وَشَرِّفْنَا بِشَرَافَةِ الْخَتْمِ الْقُرْءَانِ. وَأَلْبِسْنَا بِخِلْعَةِ خَتْمِ الْقُرْءَانِ. وَأَدْخِلْنَاالْجَنَّةَ مَعَ الْقُرْءَانِ. وَعَافِنَا مِنْ كُلِّ بَلَآءِالدُّنْيَا وَعَذَابِ الْأَخِرَةِ بِحُرْمَةِ خَتْمِ الْقُرْءَانِ. وَارْحَمْ جَمِيْعَ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ بِحُرْمَةِ خَتْمِ الْقُرْءَانِ. اَللهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْءَانَ لَنَا فِى الدُّنْيَا قَرِيْنًا. وَفِي الْقَبْرِ مُوْنِسًا. وَفِى الْقِيَمَةِ شَفِيْعًا. وَعَلَى الصِّرطِ نُوْرًا. وَإِلَى الْجَنَّةِ رَفِيْقًا. وَمِنَ النَّارِ سِتْرًاوَحِجَابًا. وَإِلَى الْخَيْرتِ كُلِّهَادَلِيْلاًوَإِمَامًا. بِفَضْلِكَ وَجُوْدِكَ وَكَرَمِكَ يَآاَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اَللهُمَّ ارْزُقْنَا بِكُلِّ حَرْفٍ مِنَ الْقُرْءَانِ حَلاَوَةً. وَبِكُلِّ كَلِمَةٍ كَرَامَةً. وَبِكُلِّ ءَايَةٍ سَعَادَةً. وَبِكُلِّ سُوْرَةٍ سَلاَمَةً. وَبِكُلِّ جُزْءٍ جَزَآءً. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَءَالِهِ أَجْمَعِيْنَ الطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ. اَللهُمَّ انْصُرْ سُلْطنَنَا سُلْطنَ الْمُسْلِمِيْنَ. وَانْصُرْوُزَرَآءَهُ وَوُكَلآءَهُ وَعَسَاكِرَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. وَاكْتُبِ السَّلاَمَةَ وَالْعَافِيَةَ عَلَيْنَا وَعَلَى الْحُجَّاجِ وَالْغُزَاةِ وَالْمُسَافِرِيْنَ وَالْمُقِيْمِيْنَ فِيْ بَرِّكَ وَبَحْرِكَ مِنْ أُمَّةٍ مُحَمَّدٍ أَجْمَعِيْنَ. اَللهُمَّ بَلِّغْ ثَوَابَ مَاقَرَأْنَاهُ وَنُوْرَ مَاتَلَوْنَاهُ لِرُوْحِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وِلِأَرْوَاحِ أَوْلدِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَأَصْحبِهِ رِضْوَانُ اللهِ تَعَالَى عَلَيْهِمْ أَجْمَعِيْنَ. وَلِأَرْوَاحِ ءَابَآئِنَا وَأُمَّهتِنَا وَأَبْنَآئِنَا وَبَنَاتِنَا وَإِخْوَنِنَا وَأَخَوتِنَا وَأَصْدِقَآئِنَا وَأُسْتَاذِنَا وَأَقْرِبَآئِنَا وَمَشَايِخِنَا وَلِمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا وِلِأَرْوَاحِ جَمِيْعِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ. اَلْأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. بِرَحْمَتِكَ يَآأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. جَزَى اللهُ عَنَّا مُحَمَّدً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَاهُوَ أَهْلُهُ. سُبْحنَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ. وَسَلمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ. وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالِمِيْنَ. آمِيْنَ
Para pemburu syafa'at al Qur'an
Repost by : Rahmah Hasjim Adnan
🕋 Para Pengusung Panji Al-Quran 🕋
▪▫▪
حامل القرأن
" بقدر ملازمتك للقرآن بقدر ما يعطيك القرآن من أسراره وكنوزه.. وكلٌ يفتح الله عليه بابا من أبواب الفهم للقرآن ودلالاته "
semakin banyak waktu yg kamu habiskan dengan al qur'an maka semakin banyak pula rahasia dan kekayaan makna yg diberikan nya kepada mu, dan setiap orang yg melazimi nya akan dibukakan untuk nya pintu dari pintu pintu memahami al quran dan petunjuk nya.
▪▫▪
حامل القرأن
" سلوا أصحاب القرآن عن متعة التسميع أمام معلم يفخر بك إذا رآك مجتهدًا ويخاف عليك إن رآك مهموماً فيأخذ فؤادك إليه بالدعاء ".
bertanyalah kepada para penghafal al quran tentang kenikmatan ketika membaca al quran di depan guru mereka. sang alan akan bangga dengan mu ketika melihat mu bersungguh sungguh, tetapi apabila dia melihat mu bersedih, maka dia akan memegang hati mu dan mendoakan nya.
▪▫▪
حامل القرأن
" الوحدة .. العزلة .. الإنفراد
يعتبرها بعضهم مرضًا نفسيا يحتاج للعلاج ..!!
ويعتبرها أهل القرآن نعمة يهربون من الناس لأجلها !! "
menyendiri..
sebagian dari manusia menganggap nya adalah penyakit psikologi yg membutuhkan terapi..!!
dan bagi penghafal al quran hal itu adalah kenikmatan yg membuat mereka meninggalkan keramaian manusia untuk mendapatkan nya
▪▫▪
حامل القرأن
" من عجائب القرآن أنه سهل الحفظ سريع التفلت ، وذلك لكيلا يزاحمه أحد ، فيكون هو شغلك الشاغل وصاحبك الدائم وأنيسك في الليل والنهار ".
dari keajaiban al quran, menghafal dan melupakan nya sangat lah mudah, agar dia tidak tersisihkan oleh yg lain nya, maka jadikanlah ia kesibukan utama mu, dan teman mu selama nya, dan penghibur mu di siang dan malam hari.
▪▫▪
حامل القرأن
" في زمن كثرت فيه الملهيات والمتغيرات والفتن بشتى أشكالها لابد أن تستميت من أجل أن تبقى في عداد الحفّّاظ لكتاب الله ".
di zaman yg telah banyak sekali tempat hiburan, dan semua hal yg berubah dengan cepat, dan fitnah dengan segala bentuk nya, maka anda harus berjuang dengan keras untuk selalu berada bersama para penghafal al quran.
▪▫▪
حامل القرأن
" وأنت تقرأ القرآن ابحث عن نفسك بعد كل اية ، ستجد ما يقصدك ويعنيك ستجد ما ينفعك ويحتويك، ستجد دواء يشفيك، وسعادة تكسُر همّ ماضيك ".
ketika anda membaca al quran, carilah diri mu setiap kali engkau selesai membaca setiap satu ayat, anda akan mendapatkan sesuatu yg memberikan mu petunjuk dan menolong dan meliputi mu, anda akan menemukan obat yg menyembuhkan mu, dan kebahagiaan yg memecahkan kegelisahan mu.
▪▫▪
حامل القرأن
" كم من دمعة مسحها القرآن وكم من جرح ضمده القرآن وكم من روح آنس وحشتها القرآن كم هم أهل القرآن في نعمة عظيمة لا يستشعرها سواهم "
betapa banyak air mata yg dihapus oleh al quran, betapa banyak luka yg diobati oleh al quran, dan betapa banyak ruh yg ditenteramkan oleh al quran, betapa banyak penghafal al quran yg berada di kenikmatan yg agung, yg tidak dapat dirasakan oleh selain mereka.
▪▫▪
حامل القرأن
" عندما تستصعب سورة أو تعسر حفظك لها كررها واستشعر كم قرأت من حرف والحرف بكم حسنة ومايضاعفها
ستجد نفسك مقبلًا بعزيمة وإصرار ".
ketika anda merasa berat menghafal satu surat dari al qur'an maka ulangilah membaca nya dan rasakanlah berapa banyak pahala yg engkau dapatkan dari bacaan mu. anda akan mendapatkan diri anda mempunyai tekad dan ketetapan hati yg kuat.
▪▫▪
حامل القرأن
" ما دمنا مع القرآن
فلن يضيعنا الله ".
selama kita bersama al qur'an, maka Allah tidak akan pernah menyia nyiakan kita
▪▫▪
حامل القرأن
" لا تبعدك المعاصي عن القرآن فإنها والله أكبر ما يحول بين الحافظ والقرآن ".
jangan sampai maksiat menjauhkan mu dari al qur'an, karena sesungguh nya demi Allah yg maha besar, tidak akan pernah berpisah antara al qur'an dan penghafal nya
▫▪▫
حامل القرأن
" من أقبل على القرآن بِكُل مافيه أقبل عليه القرآن "
siapapun yg datang kepada al qur'an dengan segala yg dipunyai maka al qur'an pasti mendatangi nya
▪▫▪
حامل القرأن
" ذٰلك القرآن عَزيز لايُعطى لِمن أخذه بِضَعف أو تكاسل،
خُذه بِحقه!! "
al qur'an sangatlah mulia, tidak diberikan kepada siapa saja yg mencari nya dengan lesu dan malas,
raihlah ia dengan sekuat tenaga !!
▪▫▪
حامل القرأن
" يامن رزقك الله وامتن عليك بأن جعل صدرك مستودعاً لكلامه ،أحسن الحفظ .. واحفظ الأمانة ، فحري بصدر يحمل كلام الله
أن لايحمل إلا كل
خير "
wahai engkau yg telah dikaruniakan oleh Allah dan diberikan kenikmatan dengan dijadikan nya dada mu menjadi tempat dititipkan nya al qur'an..
perbaikilah hafalan mu, jagalah amanah ini...
maka sudah sepatut nya untut setiap pembawa al quran ini untuk tidak mengisi nya kecuali dengan kebaikan
▫▪▫
حامل القرأن
" لا تدع فرحة الحفظ تلهيك عن تثبيته ..
فالمحافظة على القرآن في صدرك يحتاج منك عناية
من مداومة على تلاوته واستظهاره وقيام به بالليل ".
jangan sampai rasa bangga dengan keberhasilan hafalan melalaikan mu dari mengulang nya, Karena menjaga AlQur'an agar tetap di dadamu membutuhkan istiqamah dalam membacanya, terbangun bersamanya di keheningan malam
▪▫▪
حامل القرأن
" لا تيأس وتقول لم أتقن الزمن أمامك ..
والحياة مشرقة بهيّة
فقط ثبت قدمك ..
واستمر بطريقك
وسوف تلقى مايسرك ".
jangan putus asa sehingga menjadikan mu berkata, " aku tidak mampu melancarkan nya". kesempatan berada di depan mu, dan kehidupan ini bersinar dengan indah..
hanya kokohkan pijakan mu..
dan lanjutkan dengan cara mu..
kamu pasti menemukan kemudahan.
▪▫▪
حامل القرأن
" قال أحد السلف لطلابه : أتحفظ القرآن ؟
قال : لا
قال : مؤمن لا يحفظ القرآن ! فبم يتنعم ! فبم يترنم ! فبم يناجي ربه !"
salah satu dari salaf bertanya kepada murid nya, "apakah kamu menghafal al qur'an?
murid : " tidak"
guru : "seorang mukmin yg tidak menghafal al qur'an ! dengan apakah ia merasakan kenikmatan ! dengan apakah ia bersenandung ! dan dengan apakah ia bermunajat kepada Pencipta nya!
▫▪▫
حامل القرأن
" إذا أحسست بثقل في إتمام وردك فاعلم أن هناك ذنبا جثم على القلب فكدره.
قال عثمان رضي الله عنه
لو صفت قلوبنا ما شبعت من كلام ربنا "
apabila engkau merasakan berat nya menyempurnakan wirid mu, maka ketahuilah bahwa terdapat dosa yg menetap di hati mu, maka bersihkanlah.
Utsman رضي الله عنه berkata : "apabila hati kita telah bersih maka kita tidak akan pernah bosan dengan al qur'an
▫▪▫
حامل القرأن
" لا تتعثر مهما كثرت في طريقك العقبات ..
لا بد من العقبات ..
ولا بد من الصبر ..
بل المصابرة والمجاهدة.... "
jangan sampai engkau tersandung dengan banyak nya rintangan di jalan yg sedang kau lalui saat ini...
sudah seharus nya rintangan itu hadir..
dan sudah seharusnya kesabaran selalu menemani...
bahkan dengan terus bersabar dan berjuang..
♦بلغ غفر الله لك
Teruskan nasehat ini, semoga Allah mengampunimu......
Dala'ilul khoirot
DALA'IL AL KHOIROT
***
Inilah Kisah Al-Imam Al-Jazuliy.
Di riwayatkan bahwa Al-Imam Jazuli yang membuat Dala’il Khairot. Ketika itu ia ditanya kenapa menulis shalawat yang demikian panjangnya, maka dia berkata:
"Suatu siang, aku melewati padang pasir bersama murid-muridku yang kehabisan air, lalu kami melewati sebuah sumur dekat perkampungan. Kemudian kami mendekati sumur itu, namun tidak ada embernya, tidak ada talinya, tidak ada pengereknya, timbanya juga tidak ada, tapi di dalam sumur itu ada airnya, namun terlalu dalam.
Timbul pertanyaan dari kami:
"Lantas bagaimana cara orang di sini mengambil airnya.? Apa mungkin.. setiap kali mengambil air, harus membawa timba terlebih dahulu, lalu di pasang talinya?".
Kami pun terdiam. Lalu saya lihat ada seorang putri kecil berumur di bawah 10 tahun yang sedang bermain.
“Hai putri kecil, timba sumur ini kemana? Ini kan sumur umum?”.
Putri kecil pun menjawab, “Iya, benar.. ini sumur umum, namun kami di sini tidak memerlukan timba untuk mengambil air di sumur ini”.
“Lalu bagaimana cara mengambil air sumur ini?”
Putri kecil itu berkata : “Beginilah cara kami mengambil air sumur ini", seraya mendekati sumur, lalu menaruh tangannya di atas sumur, lalu air sumur itu naik dengan sendirinya dari bawah ke atas, terus hingga ke bibir sumur, sampai meluap di atas bibir sumur. Dan air pun akan turun lagi ke bawah dengan sendirinya.
Berkata Imam Jazuli :
“Laailaha illaLlohu, MuhammadurrasuluLloh."
"Wahai putri kecil, kau ini punya amalan apa?”
Dijawab oleh putri kecil itu :
“Aku cuma di suruh ayah dan ibuku, selain shalat dan selain berbicara, aku tidak boleh berhenti dari shalawat kepada sayyidina Muhammad -shallaLlohu ‘alaihi wasallam-.
Semua sekampung di sini, cara mengambil air nya memang seperti itu.", pungkas si putri kecil.
*****
اللهم صل علي سيدنا محمد وال سيدنا محمد . والله اعلم
KH Abdul hamid pasuruan
*Mampukah melakukan riyadhah dan melanggengkan wirid spt KH Abdul Hamid ini?*
KH. ABDUL HAMID PASURUAN
Suatu ketika ada seseorang meminta nomer togel ke Kyai Hamid. Oleh Kyai Hamid diberi dengan syarat jika dapat togel maka uangnya harus dibawa kehadapan Kyai Hamid. Maka orang tersebut benar-benar memasang nomer pemberian Kyai Hamid dan menang. Saran ditaati uang dibawa kehadapan Kyai Hamid. Oleh kyai uang tersebut dimasukan ke dalam bejana dan disuruh melihat apa isinya. Terlihat isinya darah dan belatung. Kyai Hamid berkata “tegakah saudara memberi makan anak istri saudara dengan darah dan belatung?” Orang tersebut menangis dan bertobat.
Setiap pergi ke manapun Kyai Hamid selalu didatangi oleh umat, yang berduyun duyun meminta doa padanya. Bahkan ketika naik haji ke mekkah pun banyak orang tak dikenal dari berbagai bangsa yang datang dan berebut mencium tangannya. darimana orang tau tentang derajat Kyai Hamid? Mengapa orang selalu datang memuliakannya? Konon inilah keistimewaan beliau, beliau derajatnya ditinggikan oleh Allah SWT.
Pada suatu saat orde baru ingin mengajak Kyai Hamid masuk partai pemerintah. Kyai Hamid menyambut ajakan itu dengan ramah dan menjamu tamunya dari kalangan birokrat. Ketika surat persetujuan masuk partai pemerintah itu disodorkan bersama pulpennya, Kyai Hamid menerimanya dan menandatanganinya. Anehnya pulpen tak bisa keluar tinta, diganti polpen lain tetap tak mau keluar tinta. Akhirnya Kyai Hamid berkata: “Bukan saya yang gak mau tanda tangan, tapi bolpointnya gak mau”. Itulah Kyai Hamid dia menolak dengan cara yang halus dan tetap menghormati siapa saja yang bertamu kerumahnya.
Inilah beberapa dari banyak karomah Kyai Hamid. Kyai Hamid adalah realita nyata tentang munculnya seorang hamba Allah yang mempunyai kekuatan ma’rifat billah yang mumpuni dan kekuatan musyahadah atas nur tajalli dengan maqam wilayah yang amat tinggi. Dan kekuatan tersebut tentu tidak mungkin beliau dapatkan dengan serta merta tanpa melalui tahapan-tahapan amaliyah dan maqamat tarekat yang beliau jalani dan beliau istiqamahkan. Setidaknya -dari sirah Kyai Hamid yang dapat kita baca-, kualitas amaliyah dan maqamat itulah yang selalu beliau pancarkan dalam setiap gerak langkah beliau. Kewara’an, kezuhudan, ketawadlu’an, kesabaran, keistiqamahan, dan riyadlah.
Dan yang jelas, kekuatan ma’rifat dan wilayah tersebut hingga saat ini telah menjadi hamparan hikmah yang maha luas dan menebarkan harum pada sanubari tiap orang yang mengenalnya. Hingga siapapun tak akan pernah kehabisan untuk mengais suri tauladan atas keagungan akhlaknya dan menempa keberkahan yang telah beliau sebarkan dalam setiap relung hati dan palung hidup kita.
Sebelum menjadi kyai, semasa beliau mondok di Termas, Abdul Hamid (nama asli Kyai Hamid) banyak melakukan suluk tarekat secara sirri. Seperti sering pergi ke gunung dekat pondok Termas untuk melakukan khalwat dan dzikir. Tapi kalau ada orang datang, ia pura-pura mantheg (mengetapel) agar orang tidak tahu bahwa dia sedang berkhalwat. Amalan wirid juga sering beliau baca disela-sela aktifitasnya sebagai seorang santri. Bahkan, ketika sering diajak begadang untuk mencari jangkrik, Kyai Hamid segera membaca wirid ketika teman-temannya tidak melihatnya.
Lambat laun, aktifitas suluk Kyai Hamid dengan dzikir sirri (qalbi) dan membaca awrad semakin intens dilakukan di kamar Pondok. Bahkan diceritakan, semakin hari, Kyai Hamid semakin jarang keluar dari kamar untuk melakukan dzikir dan wirid tarekat tersebut. Sampai-sampai, kawan-kawannya menggodanya dengan mengunci pintu kamar dari luar.
Beliau bersikap hormat pada siapapun. Dari yang miskin sampai yang kaya, dari yang jelata sampai yang berpangkat, semua dilayaninya, semua dihargainya. Misalnya, bila sedang menghadapi banyak tamu, beliau memberikan perhatian pada mereka semua. Mereka ditanyai satu per satu sehingga tak ada yang merasa disepelekan. “Yang paling berkesan dari Kiai Hamid adalah akhlaknya: penghargaannya pada orang, pada ilmu, pada orang alim, pada ulama. Juga tindak tanduknya,” kata Mantan Menteri Agama, Prof. Dr. Mukti Ali, yang pernah menjadi junior sekaligus anak didiknya di Pesantren Tremas.
Beliau sangat menghormat pada ulama dan habaib. Di depan mereka, sikap beliau layaknya sikap seorang santri kepada kiainya. Bila mereka bertandang ke rumahnya, beliau sibuk melayani. Misalnya, ketika Sayid Muhammad ibn Alwi Al-Maliki, seorang ulama kondang Mekah (yang baru saja wafat), bertamu, beliau sendiri yang mengambilkan suguhan, lalu mengajaknya bercakap sambil memijatinya. Padahal tamunya itu lebih muda usia.
Sikap tawadhu’ itulah, antara lain, rahasia “keberhasilan” beliau. Karena sikap ini beliau bisa diterima oleh berbagai kalangan, dari orang biasa sampai tokoh. Para kiai tidak merasa tersaingi, bahkan menaruh hormat ketika melihat sikap tawadhu’ beliau yang tulus, yang tidak dibuat-buat. Derajat beliau pun meningkat, baik di mata Allah maupun di mata manusia. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW., “Barangsiapa bersikap tawadhu’, Allah akan mengangkatnya.”
Beliau sangat penyabar, sementara pembawaan beliau halus sekali. Sebenarnya, di balik kehalusan itu tersimpan sikap keras dan temperamental. Hanya berkat riyadhah (latihan) yang panjang, beliau berhasil meredam sifat cepat marah itu dan menggantinya dengan sifat sabar luar biasa. Riyadhah telah memberi beliau kekuatan nan hebat untuk mengendalikan amarah.
Beliau, misalnya, dapat menahan amarah ketika disorongkan oleh seorang santri hingga hampir terjatuh. Padahal, santri itu telah melanggar aturan pondok, yaitu tidak tidur hingga lewat pukul 9 malam. Waktu itu hari sudah larut malam. Beliau disorongkan karena dikira seorang santri. “Sudah malam, ayo tidur, jangan sampai ketinggalan salat subuh berjamaah,” kata beliau dengan suara halus sekali.
Beliau juga tidak marah mendapati buah-buahan di kebun beliau habis dicuri para santri dan ayam-ayam ternak beliau ludes dipotong mereka. “Pokoknya, barang-barang di sini kalau ada yang mengambil (makan), berarti bukan rezeki kita,” kata beliau.
Pada saat-saat awal beliau memimpin Pondok Salafiyah, seorang tetangga sering melempari rumah beliau. Ketika tetangga itu punya hajat, beliau menyuruh seorang santri membawa beras dan daging ke rumah orang tersebut. Tentu saja orang itu kaget, dan sejak itu kapok, tidak mau mengulangi perbuatan usilnya tadi. Beliau juga tidak marah ketika seorang yang hasud mencuri daun pintu yang sudah dipasang pada bangunan baru di pondok.
Melalui riyadhah dan mujahadah (memerangi hawa nafsu) yang panjang, beliau telah berhasil membersihkan hati beliau dari berbagai penyakit. Tidak hanya penyakit takabur dan amarah, tapi juga penyakit lainnya. Beliau sudah berhasil menghalau rasa iri dan dengki. Beliau sering mengarahkan orang untuk bertanya kepada kiai lain mengenai masalah tertentu. “Sampeyan tanya saja kepada Kiai Ghofur, beliau ahlinya,” kata beliau kepada seorang yang bertanya masalah fiqih. Beliau pernah marah kepada rombongan tamu yang telah jauh-jauh datang ke tempat beliau, dan mengabaikan kiai di kampung mereka. Beliau tak segan “memberikan” sejumlah santrinya kepada KH. Abdur Rahman, yang tinggal di sebelah rumahnya, dan kepada Ustaz Sholeh, keponakannya yang mengasuh Pondok Pesantren Hidayatus Salafiyah.
Menghilangkan rasa takabur memang sangat sulit. Terutama bagi orang yang memiliki kelebihan ilmu dan pengaruh. Ada yang tak kalah sulitnya untuk dihapus, yaitu kebiasaan menggunjing orang lain. Bahkan para kiai yang memiliki derajat tinggi pun umumnya tak lepas dari penyakit ini. Apakah menggunjing kiai saingannya atau orang lain. Kiai Hamid, menurut pengakuan banyak pihak, tak pernah melakukan hal ini. Kalau ada orang yang hendak bergunjing di depan beliau, beliau menyingkir. Sampai KH. Ali Ma’shum berkata, “Wali itu ya Kiai Hamid itulah. Beliau tidak mau menggunjing (ngrasani) orang lain.”
Kiai Hamid, seperti para wali lainnya, adalah tiang penyangga masyarakatnya. Tidak hanya di Pasuruan tapi juga di tempat-tempat lain. Beliau adalah sokoguru moralitas masyarakatnya. Beliau adalah cermin (untuk melihat borok-borok diri), beliau adalah teladan, beliau adalah panutan. Beliau dipuja, di mana-mana dirubung orang, ke mana-mana dikejar orang (walaupun beliau sendiri tidak suka, bahkan marah kalau ada yang mengkultuskan beliau).
Tanggal 9 rabiul awal 1403 H beliau berpulang ke rahmatulloh. Umat menangis, gerak kehidupan di Pasuruan seakan terhenti. Ratusan ribu orang membanjiri Pasuruan, memenuhi relung Masjid Agung Al Anwar dan alun alun serta memadati gang dan ruas jalan. Beliau dimakamkan di belakang masjid agung Pasuruan. Ribuan umat menziarahinya setiap waktu mengenang jasa dan cinta beliau kepada umat.
Seperti kebanyakan para kiai, Kiai Hamid banyak memberi ijazah wirid kepada siapa saja. Biasanya ijazah diberikan secaara langsung tapi juga pernah memberi ijazah melalui orang lain.
Diantara ijazah beliau adalah:
1. Membaca SURAT AL-FATIHAH 100 kali tiap hari. Menurutnya, orang yang membaca ini bakal mendapatkan keajaiban-keajaiban yang tak terduga. Bacaan ini bisa dicicil setelah sholat Shubuh 30 kali, selepas shalat Dhuhur 25 kali, setelah Ashar 20 kali, setelah Maghrib 15 kali dan setelah Isya’ 10 kali.
2. Membaca HASBUNALLAH WA NI’MAL WAKIL sebanyak 450 kali sehari semalam.
3. Membaca sholawat 1000 kali. Tetapi yang sering diamalkan Kiai Hamid adalah shalawat Nariyah dan Munjiyat.
4. Membaca kitab DALA’ILUL KHAIRAT. Kitab yang berisi kumpulan shalawat.
5. Wirid rutin AL-WIRD AL-LATHIF dan RATIB AL-HADDAD. Dua wirid yang diajarkan oleh Kyai Hamid dan diwariskan hingga sekarang kepada para santri dan keluarganya.
Terakhir, berikut Syiir doa beliau yang pernah dimuat di KWA
بسم الله الرّحمن الرّحيم
يَا رَبَّنا اعْتَرَفْنا * بِأَنَّنَا اقْتَرَفْنَا
Wahai Tuhan kami! kami mengakui telah berbuat dosa
وَاَنَّنَا اَسْرَفْنَا * عَلَى لَظَى اَشْرَفْنَا
Sungguh kami telah melampaui batas dan kami hampir masuk neraka ladho
فَتُبْ عَلَيْنَا تَوْبَةْ * تَغْسِلْ لِكُلِّ حَوْبَةْ
Maka berilah kami taubat, sucikanlah kami dari segala dosa
وَاسْتُرْ لَنَا الْعَوْرَاتِ * وَاَمِنِ الرَّوْعَاتِ
Tutuplah segala keburukan kami, amankanlah dari segala ketakutan
وَاغْفِرْ لِوَالِدِيْنَا * رَبِّ وَمَوْلُوْدِيْنَا
Wahai Tuhan ampunilah orang tua kami dan anak-anak kami
وَالْاَلِ وَالْاِخْوَانِ * وَسَائِرِالْخِلَّانِ
Ampunilah keluarga, teman-teman dan semua saudara
وَكُلِّ ذِيْ مَحَبَّةَ * أَوْ جِيْرَةٍ أَوْ صُحْبَحْ
Ampunilah kekasih, tetangga dan semua sahabat
وَالْمُسْلِمِيْنَ اَجْمَعْ * اَمِيْنَ رَبِّ اِسْمَعْ
serta semua muslim, Wahai Tuhan semoga Kau dengar kau kabulkan
فَضْلًا وَجُوْدًا مَّنَّا * لَا بِاكْتِسَابٍ مِنَّا
Dengan anugrah, kemurahan, dan kemuliaanMu, bukanlah sebab usaha kami
بِاالْمُصْطَفَى الرَّسُوْلِ * نَحْظَى بِكُلِّ سُوْلِ
Dengan wasilah Rasul Terpilih, kami peroleh segala permintaan
صَلَّى وَسَلَّمْ رَبِّ * عَلَيْهِ عَدَّ الْحَبِّ
Semoga Allah memberi rahmat dan keselamatan kepada Rasul sebanyak bijian (sebanyak-banyaknya).
وَاَلِهِ وَالصَّحْبِ * عَدَدَ طَشِّ السُّحْبِ
Kepada dan keluarganya sebanyak rintikan hujan yang turun
وَالْحَمْدُ لِلْاِلَهِ * فِيْ الْبَدْءِ وَالتَّنَاهِى
Segala puji bagi Allah dari permulaan dan penghabisan